Sunday, January 1, 2012

puisi : lautan imaji (part 2)

aku berlari dari khayalan ke khayalan
menjauhi alam nyata
yang memberat pikiran

jika ini kenyataan :
selalu indah
selalu ada tawa
selalu ada canda
selalu ada senyum
aku tidak jadi terlalu susah
untuk berpikir jadi manusia

tapi ini dunia, bukan sorga
seberapa banyak episode
khayali yang kubangun
dalam imaji yang tak bertepi :
tetap saja aku harus memahami
aku tak berumah di alam mimpi

--kdg, 1 januari 2012

puisi : lautan imaji (part 1)

hidup adalah khayalan. kadang juga setengah
dari pengharapan
seperti hari ini
ketika ada imaji tak bertepi
tak bisa menggapai pantai
hanya menghantam batu karang

jika ini, memang berulang
moga saja tak akan menjadi lelah
juga menjadi kekalahan
bukankah sudah terbiasa, jadi paham arti kecewa

kdg, suatu siang (11/7/2005)

sajak : pengembara

terpaku dalam lautan kutukan
awan selalu menghadang dimukaku kala
aku menatapmu
adakah awan itu kau sengaja datangkan
demi—runcingnya hatiku dan pandanganku—
hingga aku dapat menatapmu
dengan kesucian hati

lautan kutukan terpaku

jauh langkah kaki
menginjak karang dan menapaki
dinginna awan “tertembus”
‘tuk memetik—kilau permata—
dipuncak gunung keabadian

sukma tegar
meraung dalam ruang hampa
dengarkah ?

kdg, 1999

sajak : catatan perjalanan

I
sepi disini
bukit yang terjal
pada pendakian
jauh dari impian dan harapan

inilah perjalanan
terpanggang matahari garang
di kubangan lumpur jalanan
dan kuyup kebasahan
disiram air mata hujan

II
irama langkahku hanya itu-itu saja
desah rontok napas sepeda rongsokan
menghentak di atas bebatuan cadas
dan menyeruak kerikil-kerikil padas
hamparan debu-debu jalanan

tubuhku dekil berlumuran keringat
yang tak henti-hentinya bercucuran

III
dan sedikit siulan lari angin
ataupun nyanyian-nyanyian tahun 60-an
terpatah patah dan agak sumbang
bagai suara kambing yang kelaparan
tapi itu hanya sekedar untuk hiburan
bagi perut yang lagi keroncongan

tlgt, 1998

puisi : batu kuda

(catatan yang tersisa dari sebuah ekspedisi)

hujan makin deras. udara yang kian dingin
antara kesunyian yang kian sempurna
hanya sebatang sigaret, kini mau
bersahabat denganku

api unggun. desau derau daun pohonan
pinus dan irama musik yang menghentak malam
tak memberiku hibur sehingga
dapat aku tersenyum dengan tulus

dari kesepian yang kian sempurna
kegalauan menyayat pedih di hati
persuaan kali ini kembali menjadikanku
pecudang kesekian kali

(jika pendakian kan dimulai dari
estafeta ekspedisi kali ini, aku memilih untuk berbalik
kesunyian akan kian sempurna menusuk hati ini,
biarlah kubawa pulang perasaan dengan
baju basah kuyup, gigil dingin dan beku)

--minggu pagi 27 april 03—
lembah manglayang dalam kenangan

puisi : hingga tepian sorga

berlari hingga tepian sorga
disayap malaikat kemudian aku berdiri
menatap segalanya
mencoba berkhidmat

ah, hanya setengah dari rasaku yang
penuh sleuruh meyakini
atas imaji ini
akan mencipta arti
mengejawantahkan makna
memberi tafsir baru tentang hidup

karena hingga tepian sorga
semula aku masih meragu, tak tahu
aku akan lepas dari kubangan lumpur
kehampaan imaji terkutuk itu

hidup serupa serangkaian mimpi
dan tak, tak akan pernah menjadi sempurna di pagi hari
mesi, bahkan seringkali aku sesali
---memang tanpa suatu tangis—dan hanya berlari
seperti chairil, seperti sutardji, mungkin juga sapardi
mengamuk dikesunyian, sepanjang hari
diderasnya arus bait khayali puisi
melintas batas ketakwajaran, menuju hingga ke tepian sorga
mungkin aku mendapati, atau bahkan tidak
sama sekali

dan disayap malaikat, aku masih manaruh harap

(dedicted to mm, bdg 2004-2005)

taman d. zauhiddie, suatu malam

(sebuah catatan tertinggal di tahun 2005)

menyiakan separuh malam
diburu cemburu angin kantuk
ah, apa yang dapat kucatat
sebagai ingatanku kelak :

panggung terbuka, background layar hitam dan berlampu tak temaram
antara kursi-kursi yang membuatku jemu menunggu
membayangkan juga kuda dalam diriku ikut hilang kendali
atas ruang segi empat aku merapat;
mengabarkan tentang mimpiku sendiri di suatu hari
menjelang sore, ya...rahman sabur...rahman sabur itu namanya
menjadikanku kaspar, si gundul yang pengumam gagu itu
yang gemar berserapah
aku memang kambing dan monyet

(riuh tepuk tangan penonton, imajiku tersentak, jadi buyar)

lalu lagu, seremoni, kemudian malam bermula semarak
antara orang-orang yang berkehendak, orang-orang yang berderak
aku me-riung : dapatkah do’a menangkap makna di laju waktu ?
dalam seduhan asin do’a, di cangkir dunia yang meretak
dengan setengah ucapan lirih : hanya semoga bisa

kdg, 9/10/2005

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More