Thursday, January 12, 2012

puisi : dalam sebait mantra

ada yang anehkah ?
kau memandangku, seperti seorang asing
melihat hal yang ganjil

jika tak wajar
katakan dengan kata yang jelas.
jangan diam dan atau hanya berani mengumam dibelakang
aku bukan gunung batu, bukan juga sungai yang dangkal
aku bukan pantai. bukan juga batu karang yang pendiam

sebelum aku kehilangan selera
untuk menjamu nasib baikmu, disini
mari berbicara dengan bahasa yang sama
sekali lagi
sebelum aku kehilangan semangat
untuk tetap berdiri
sebelum aku menjadi kesal
menjadi objek pandangan anehmu.

sebelum yang ganjil ini menguap ke langit
sebelum aku menjadi semakin asing dalam
pandanganmu.

katakan. tuliskan. dalam sebait mantra

2012

puisi : bukan sekedar bermimpi

entahlah...
bila ini hanya dikatakan sebagai khayalan saja :
seperti meng-igau di siang bolong
tapi nyatanya bukan mimpi, bukan juga halusinasi
mungkin absurd. mungkin juga abstrak

hanya saja...
aku tak berani menyatakannya : ini nyata
sepertinya nyata-nya dunia ini dengan seluruh isi-nya
seperti pasti-nya jawaban dalam ilmu matematika

untuk itu. kenapa harus kembali bertanya
kepada yang tahu. kepada siapa.
bahwa puisi ini bukan sekedar mimpi

(10/01/2012)

puisi : saya retak. patah

jika sayap retak ini patah
biarkan langit terus membiru
biarkan angin terus menderu
biarkan gunung terus diam membisu
biarkan impian jadi membeku
biarkan cinta tak menjadi satu
biarkan harapan menjadi sayu
biarkan sajak menjadi gagu
dan biarkan aku...
meratapi nasib yang semu

2012

Wednesday, January 11, 2012

tentang puisi

aku tak mau ada dalam puisimu : dilukiskan
sebagai sepi, sebagai luka, sebagai perih

aku tak mau disebut dalam puisimu : disketsakan
sebagai anak kecil yang mengejar bayang-bayang

aku tak mau ditulis dalam puisimu :divisualisasikan
sebagai pecundang cinta yang berlari menganduh di tepi pantai

aku tak mau dijadikan pelakon utama dalam puisimu :
seorang pemabuk sekarat

aku tak mau dijadikan ibarat dalam puisimu : karena aku
bukan santo yang pandai membaca mantra

aku tak mau dijadikan simbol dalam puisimu : aku tak serupa
algoritma. aku juga bukan rumus kimia

sekali lagi. aku tak mau
aku bukan puisi.
dan jauhkan pengertian puisi dari definisi tentang diriku

2012

Monday, January 2, 2012

puisi : sisa rintik hujan sore kemarin

: ls

pagi datang menghentakkanku yang masih
terbalut selimut hangat ;
seperti biasa menghatarkan berita tak bersahabat
dalam muram puisiku
tentang cintamu disebait lagu, banjir kata-kata,
rintik hujan sore kemarin, semua mimpi, semua caci maki
musim semi yang tak jadi bahkan
berguguran
atas bumi yang kehilangan kewajaran, napas-napas
yang mulai ringkih mengejar petala-petala langit
badut dalam otak yang tak lagi lucu
juga bom-bom yang kian menakutkan
bersatu dengan kabar hari ulang tahun, ungkapan
rindumu dalam risau puisiku
dan aku tidur kembali, lalu bermimpi lagi
tentang sisa rintik hujan sore kemarin

awal nop, 2005

sajak : untittled

jauh tatapan mata pemuda itu mengikuti bayang matahari
sejumput pikiran lepas dijalanan. seperti kembara yang ringkih
merayapi kegelapan malam. seperti meraba mimpi yang pahit dan
senyumnya tampak jadi kecut. antara deru napas kata-katanya
lepas menghujani rumput-rumput, ilalang, daun-daun kering yang
terhampar dikedua telapak tangannya. mestinya hujan itu akan
mencipta guratan sungai yang jernih bukan
telaga yang keruh, asin dipelupuk matanya. hingga sepanjang waktu
ia seperti selalu menyesali dan merasakan rasa sakit.
dihatinya. ada samudera sebenarnya, yang tenang dan tak beriak
bahkan tak berai disaput gerombolan angin. tapi kabut
yang menyelimuti tubuhku menghalangi pandangannya ;
dan aku tahu bahwa kabut itu hanyalah sisa-sisa kenangan,
sepotong nostalgi, yang dapat dilupakan ataupun untuk tetap
diingat sebagai bagian dari perjalanan hidupku yang tamapk nanar ini.

dalam hari yang muram, 19/10/2005

puisi : hujan

hujan telah usai, sebelum siang tadi
tapi sampa malam ini, dibalik selimut
aku masih menyimpan mimpi itu :
dijalanan aku basah kuyup
sambil kedinginan memanggil namamu

sebenarnya kali ini aku sangat berharap senyumanmu
untuk meredakan hujan
dan menyambutku di depan pintu
(secangkir jahe hangat kamu seduhkan untukku
sebelum aku sempat ganti baju
)
lalu aku tidak jadi gigil
tak beku oleh dingin kesekian kali
kamu, begitu pengertian untuk menghiburku
memberi hangat yang tak pernah kudapat

bersama hujan aku berlari, ingin mengejarmu
terus memanggil namamu
tapi mimpi itu usai, dibalik selimut
aku sadar, apakah aku tidak sedang mengigau ?


setelah hujan, 27 nop 2005

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More