Saturday, November 5, 2011

mimpi berhenti disetengah malam

kita ingin berubah karena masa lalu, namun juga sebab harapan,
bahkan yang mungkin bukan harapan

---sebuah sms dari seorang sahabat---

Mimpi berhenti disetengah malam
Kamar ini, hanya menyisakan dingin
Dan di hati ini, deras air matamu
menyisakan kepedihan

Tapi mau apa lagi
Jalan yang masih panjang, masih banyak tikungan
banyak simpangan, sementara kebersamaan kita
masih kita ragukan sampai dimana
Mungkin, meski hal yang terberat
pilihanmu adalah yang terbaik
kita cukup sampai disini

hanya, aku coba tuk pahami
mengerti semua ini,
memaknai kehidupan dengan bijak
adakalanya kita harus menerima kenyataan
dengan lapang dada,
pertemuan dan perpisahan punya batas tipis
pun dunia esok, hari yang baru
tak berhenti karena semua apa yang terjadi kini

masih ada banyak harapan, masih ada
banyak pilihan, masih ada bayak kesempatan
diantara serpihan, kepingan dan serakan
hati yang terluka

dikamar ini, hanya ada dingin
disetengah malam, mimpi berhenti
aku masih menyimpan semua perasaan ini
setulus seikhlas hati, telah
menyayangi dan mencintaimu

---jelang pagi menghabiskan sisa setengah malam---

Wednesday, September 7, 2011

sajak : prosa diujung bulan desember

prosa di ujung bulan desember

daunan cemara berjatuhan. sisa-sisa rantingnya dibebatuan
memberiku asa : memperpanjang durasi mimpiku. melanjutkan
khayaliku.

lalu aku berlari mendaki lembah. mengejar kesempatan
menemukan rongga bumi. tempat persembunyian sementara
sebelum deras hujan. sebelum air pertama menyentuh ubun-ubunku

(inilah aku, petualang terluka. hidup mengembara di alam kegelisahan dan keresahan. tanpa cinta. tanpa irama. dan tanpa rasa)

kdg/2011

sajak : sebuah prosa tak lengkap : 3 x 24 jam

sebuah prosa tak lengkap : 3 x 24 jam

sudah jenuh. aku membunuh waktu
3 x 24 jam
terbuang. entah percuma
sia-sia atau apa
kemana

semua tampak semu
gembira ini. senang ini. suka ini
sekedar pelipur. lalu sekejap hilang
menguap ke-awang-awang

lari dari kenyataan. melepas diri dari garis
nasib hidup. mungkin suatu kebodohan
bahkan sebuah ketololan
dan
membiarkan begitu saja jarum jam
menggilas angka demi angka
adalah manusia minus akal. moral. estetika

sudah jenuh
3 x 24 jam
kukuburkan waktu
diliang lahat kabut

kini. tinggal giliranku
dimusnahkan hukum besi dunia
tumpukan masalah diatas pondasi
kemalasan
menghancurkan impian, cita-cita dan
kebahagian hidupku.

tegal/magrib 26/12/2010

Sajak : Qiyamul Lail

QIYAMUL LAIL

bukan air mata menderas hujan
bukan rembulan menyibak kabut
bukan asa menggundah rasa

(seperti dalam keheningan gua hira : ektase disusuran zaman)

ketika sajak jadi mantra
ketika puisi jadi do’a
didekapan-Mu, sungguh setitik rindu tak tertuliskan...

angkinang, 6/09/2011

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More