Sunday, April 8, 2012

seperti dalam puisiku dulu

ketika,
suatu sore tanpa gerimis
jalan-jalan yang tenang
dan cemara berderai riang
masih jatuh daun kapuk randu
masih hijau hamparan rerumputan

langkah-langkah kaki kita
menapak jejak-jejak ingatan
suatu kenangan seperti
dalam puisiku dulu

-03-01-2005

Monday, April 2, 2012

puisi : menunggu senja, kandangan dalam puisi

ada sunyi dalam sisa-sisa hujan

dedaunan basah dan jalanan yang tampak sepi
kandangan, menjelang senja
menyiratkan makna

pada puisi
sejumput kata
dirangkai dalam bait
dan kugubah
larik sajak orang galau
saat kecamuk pikiran ini
ganas menghablur perasaan

menunggu senja
kandangan, sejenak meredam sepi
di lampu warna-warni jalanan
ku ibaratkan juga setengah kehidupanku
yang kini tampak warna-warni
tapi tampak temaram dan kusam

dalam lamat-lamat
gelap mulai merayapi sisa hujan
senja di kandangan
menjadi kekal dalam ingatan dan puisi

Monday, March 26, 2012

sajak angin dari arah utara

sesungguhnya…
kita selalu kehilangan cinta
setiap hembusan angin
yang datang dari arah utara

kawan, angin dari utara akan selalu ada
itu sudah menjadi kisah dari seribu tahun lampau
yang bermula dari pegunungan tandus
disaat pagi, ketika matahari baru meninggi
dan kicau burung mematahkan ranting-ranting
pepohonan…
angin itu datang perlahan saja
menyusup di atas rerumputan, membelai ilalang
menarikan dedaunan
hingga menyelimuti setiap dusun dan kampung
bila sampai ke kota, ia akan berhenti di tepian jendela
dan menyapa : mana cintamu, mana kekasihmu…

untuk menjawabnya, kawan
letakkan saja sebuah cermin dan katakan :
“cintaku ada di dalam cermin
kasihku ada di dalam cermin
masuklah ke dalam cermin”

sesungguhnya, kawan
didalam cermin, angin utara
akan menemukan cinta dan kekasihnya…

kdg, 26/03/2012

Thursday, January 26, 2012

dalam bait puisiku

bagaimana aku bisa menulis namamu dalam bait puisiku
wahai tangis hujan. kamu bukan matahari
kamu bukan ilalang, kamu bukan juga burung merpati

selayaknya akulah yang jadi roh dalam sajakmu
karena aku adalah rembulan, aku hamparan rumput menghijau
aku si burung dara

orang lain telah menggores dinding zaman
abadikan sunyi... kekalkan mimpi dan
kultuskan langit
kita disini masih bertengkar
mendefinisikan kata
meracaukan kalimat
merumuskan bahasa prosa

aku bukan orang yang punya mental kuat
dan sajak demi sajak dalam syairku
bukan syair deklamasi yang bisa diorasi
dengan garang...

kdg, 26 januari 2012

Monday, January 23, 2012

puncak perbukitan.... dalam sebuah puisi

sebuah jalan yang landai, pada mulanya
kemudian sedikit lereng dan sampailah pada
puncak perbukitan
lurus ke atas,
langit membiru menyapu kan angin cukup deras
agak ke selatan.. turun beberapa langkah
ada mata air sungai
lumayan jernih
membentuk telaga kecil
di jalan berbelok arah timur

tidak lebih dari lima ratus meter persegi
luas tanah landai puncak perbukitan ini
dengan sebuah gubuk...
sebuah kandang ternak
sehamparan kebun
separuh petak tanaman karet
yang sambungannya menurun bukit

duduk di pelataran gubuk ;
lalu memandang ke arah utara
ada pemandangan hamparan sawah
ada barisan pohonan kepala
di batas garis lengkungan langit

seperti seorang penyair
yang ektase menulis puisi :
ketika melihat daun-daun tomat
buah cabai yang mulai me-merah
berbadu dengan kecerahan
sinar matahari
bukan hanya siluet merah
yang indah...
ini sorga yang tak berbanding
yang ada didunia
ini tanah kesuburan
tempat para malaikat menabur cinta
ini tetirah para dewa
tempat meruwat para naga
atau mungkin tempat paling lain
di muka bumi
yang layak jadi altar pemujaan

di puncak perbukitan ini
hanya duduk di pelataran gubuk
mengubah puisi
menatah narasi
sebelum hujan datang, sebelum senja
dan sesudah ingatan melupa
kata-kata ini meng-ada

tegal... merayakan tahun baru imlek 23 januari 2012...

Sunday, January 22, 2012

rintik hujan malam ini

; hsnl

senja lepas meninggalkanku yang masih
terpaku di depan pintu ;

seperti biasa yang meninggalkan banyak pertanyaan
dalam resah puisiku
perihal kiasan cinta di sebait lagu, sms-sms orang-orang
rintik hujan malam ini, sejumlah harapan dan beberapa pertanyaan
tentang keajaiban hidup kini
dunia yang tiba-tiba
seperti serangan virus brontol
merubah kewajaran pikiranku, deru perasaanku
yang mulai seperti tak tentu dan jadi sulit untuk dipahami
tak ada lagi yang tampak lucu dalam pikiranku kini
karena kau suka jadi hang sendiri

dan aku hanya dapat tidur kembali, lalu mengenang lagi
(dalam mimpi)
sisa rintik hujan malam ini

kdg, 2005 - 2006

Saturday, January 21, 2012

epitaf

seseorang yang terpaku dalam kesunyian
menatap taburan bintang di langit malam
dan mencoba mengkhidmat arti hidup
di antara imaji, khayali dan ingatan-ingatan

bukankah sekarang semuanya tak lebih
dari hanya serupa igau dibalik selimut mimpi
dari tidur tadi malam ?
bilakah kenyataan itu kini
hanyalah epitaf dari kisah seorang pecundang
yang tenggelam di kubangan melankoli
hingga
didepan mata dunia selamanya biru ?

seseorang yang hanya bisa terpaku
dalam sunyi sendiri melawan waktu,
melupa mimpi indah...
mungkinkah masih ada harapan : menemukan hidup yang lain ?

kdg, 2005

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More